3

3. Model Evaluasi Kebijakan
Model evaluasi adalah model desain evaluasi yang dibuat oleh para pakar evaluasi yang biasanya dinamakan sesuai nama pembuatnya atau tahapan pembuatannya. Lebih jauh dijelaskan bahwa terdapat banyak model evaluasi, diantaranya Model Evaluasi CIPP dari Stufflebeam yang berorientasi kepada pengambilan keputusan setelah melakukan evaluasi terhadap Context, Input, Process, and Product. Selanjutnya kerangka kerja evaluasi yang hampir sama dengan Model CIPP yaitu Model UCLA yang dikembangkan oleh Alkin. Dalam perkembangan selanjutnya terdapat Model Evaluasi yang disebut Model Brinkerhoff yang digolongkan ke dalam tiga jenis evaluasi yaitu: (1) Fixed vs Emergent Evaluation Design; (2) Formative vs Summative Evaluation; (3) Experimental and Quasi Experimental Design vs Natural Inquiry.
Selain dari model-model evaluasi tersebut terdapat juga Model Evaluasi Countenance dari Robert E.Stake yang terdiri atas tiga komponen yang dievaluasi yaitu (1) antecedents, (2) transactions; (3) outcomes. Analisis data dilakukan dengan menganalisis kongruensi (kesesuaian) dan kontingensi antara komponen-komponen yang dievaluasi.
Evaluasi kebijakan dapat dilakukan dengan mengikuti suatu model tertentu. Mengacu pada Bridgman dan Davis (2004) sedikitnya ada empat model evaluasi yang bisa diterapkan. (1) Evaluasi ketepatan (appropriateness evaluation). Evaluasi yang dilakukan untuk membantu membuat kebijakan dalam menentukan apakah sebuah program yang baru perlu dibuat atau apakah program yang ada masih harus dipertahankan. Pertanyaan kunci pada evaluasi ini menyentuh aspek mekanisme pemberian pelayanan, adalah apakah lembaga pemerintah ataukah swasta yang harus menyelenggarakan pelayanan sosial? (2) Evaluasi efisiensi (efficiency evaluation). Menghitung seberapa besar barang dan jasa mampu menghasilkan sesuai dengan sumberdaya yang dikeluarkan. Apakah sebuah program secara ekonomi efisien dilihat dari uang publik yang digunakannya? (3) Evaluasi efektivitas (effectiveness evaluation). Mengidentifikasi apakah sebuah program menghasilkan dampak yang bermanfaat bagi publik. Apakah dampak yang ditimbulkan program dapat meningkatkan kesejahteraan publik? Apakah program dapat mencapai tujuan-tujuannya? (4) Evaluasi meta (meta-evaluation). Mengevaluasi proses evaluasi itu sendiri. Apakah lembaga-lembaga yang melakukan evaluasi menerapkan model dan metode evaluasi yang profesional? Apakah prosedur evaluasinya sesuai dengan langkah-langkah evaluasi yang benar? Apakah kriteria evaluasi sesuai dengan variabel-variabel yang diukur? tujuannya menyediakan bahan bagi pengambil keputusan dalam menentukan tindak lanjut suatu kebijakan.
Countenance Evaluation Model merupakan model evaluasi yang dikembangkan Stake dengan menekankan pada deskripsi dan pertimbangan. Tiga tahap yang harus dilakukan dalam model evaluasi ini adalah: (1) anteseden (antecedents/context), (2) transaksi (transaction/process), dan (3) keluaran (output-outcomes).
Dari beberapa konsep di atas dapat disimpulkan bahwa model-model evaluasi yang dikembangkan oleh para pakar adalah terkait erat dengan tujuan, fungsi dan lingkup penilaian dari evaluasi yang akan dilakukan. Sehingga, ketetapan pemilihan model evaluasi akan berpengaruh terhadap simpulan dan rekomendasi yang akan dihasilkan
Alasan peneliti memilih Countenance Evaluation Model yang dikembangkan oleh Robert E.Stake, karena model evaluasi tersebut cukup fleksibel, simpel dan sesuai dengan kebutuhan peneliti dalam mengevaluasi Manajemen Mutu Riset Internasional Universitas Indonesia. Sebagaimana dinyatakan oleh Stake: …..each evaluator will have to make a very different adaptation to suit each situation. Berdasarkan model yang dikembangkan oleh Stake, evaluator dapat melakukan adaptasi sesuai dengan situasi, kondisi dan juga tujuan yang ingin dicapai; bahkan evaluator memiliki peluang untuk mengembangkan model evaluasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dalam melakukan evaluasi Stake menekankan pada dua dasar kegiatan yaitu descriptions dan judgments. Descriptions menunjukkan intents (goal) atau tujuan dan observation menunjukkan effects atau apa yang sebenarnya terjadi. Judgements mempunyai dua aspek yaitu standard (standar) dan judgements (penilaian). Model evaluasi yang dikembangkan oleh Stake tersebut tampak pada visualisasi berikut:

Selanjutnya Stake mengidentifikasi tahapan dalam penelitian evaluasi yaitu: (1) Antecedents phase menjelaskan kondisi awal yang melatarbelakangi atau yang dipersyaratkan sehingga suatu kebijakan dapat diimplementasikan (diberlakukan). (2) Transactions phase yaitu tahapan pelaksanaan. Mengevaluasi transaksi atau proses yang terjadi dalam rangka pelaksanaan kebijakan. (3) Outcomes phase, yaitu tahapan untuk mengetahui hasil implementasi kebijakan.
Dari penjelasan di atas, maka dapat disintesiskan. Evaluasi kebijakan publik mempunyai 3 (tiga) lingkup makna, pelaksanaan evaluasi implementasi kebijakan manajemen mutu riset internasional UI dideskripsikan berdasarkan perbandingan antara kriteria dengan data empiris tentang apa yang sebenarnya terjadi (observations) serta kesesuaiannya (congruence) dengan tujuan (intents), hasil perbandingan tersebut digunakan dalam penilaian (judgments) guna pengambilan keputusan pada komponen yang dievaluasi. Demikian pula untuk mengetahui keterkaitan antar komponen yang dievaluasi dilakukan analisis kontingensi. Kemudian data yang telah dikumpulkan direduksi, dan dilakukan verifikasi data sebelum menarik kesimpulan.
Gambaran model evaluasi Stake yang diterapkan peneliti dalam mengevaluasi implementasi kebijakan manajemen mutu riset internasional UI adalah sebagai berikut: